Langsung ke konten utama

Beberapa Hal yang Bisa Kamu Lakukan Saat Terpaksa Harus BAB di Toilet Umum

 


Tak ada yang benar-benar siap menghadapi mules di luar rumah. Tapi di antara semua hal yang bikin panik, tak ada yang lebih jujur daripada bunyi tubuh yang tak bisa dibohongi.

Aku pernah mencoba menahan mules dari Cikini sampai Depok. Itu adalah keputusan yang paling sombong sekaligus bodoh dalam hidupku. Bayangkan, dalam perjalanan sejauh itu, aku sempat berdebat dengan tubuhku sendiri: siapa yang lebih berkuasa atas keputusan hidup ini—aku atau perutku?

Tentu saja aku kalah.
Perut menang.

Dan sejak saat itu aku menyadari: ada kalanya manusia harus menyerah. Menyerah pada kenyataan bahwa kita hanyalah makhluk hidup yang sewaktu-waktu bisa dilumpuhkan oleh satu sendok sambal.

Toilet Umum Bukan Musuh, Tapi Juga Bukan Teman

Kita semua tahu, toilet umum itu ibarat kawan lama yang kadang menolong, tapi kadang juga bikin trauma. Ada toilet yang bersih dan wangi, tapi jumlahnya sangat langka, seperti legenda urban. Kebanyakan toilet umum itu... ya, begitu. Pintu yang sudah sulit ditutup rapat, lantai yang licin karena misteri cairan yang tak bisa dijelaskan, dan tisu yang hanya ada dalam imajinasi.

Tapi kalau sudah mules, kita tak lagi pilih-pilih. Karena pada titik tertentu, kita rela berdamai dengan keadaan, asal bisa duduk dan bernegosiasi dengan isi perut tanpa diganggu.

Toilet umum, dalam momen itu, bukan sekadar tempat buang hajat. Ia jadi ruang sunyi tempat manusia kembali ke asalnya: rapuh, terpojok, dan pasrah.


Ada dua hal utama yang bikin kita nggak nyaman saat BAB di toilet umum: bau dan bunyi.

Bau itu... ya ampun, bagaimana cara menjelaskannya dengan sopan? Mungkin seperti aroma dendam yang mendidih. Ada kepedihan, ada sejarah, dan ada sesuatu yang tak seharusnya keluar di ruang tertutup.

Sementara bunyi—ini lebih pelik. Karena bunyi itu tidak bisa ditahan. Kadang pelan dan lirih, kadang pecah dan menggelegar, kadang... terlalu jujur. Dan yang paling ditakuti tentu saja bunyi khas yang tidak bisa ditiru oleh benda lain di dunia ini: cemplung.

Suara tai yang jatuh ke air itu... ya begitu. Cemplung. Dan saat kamu mendengarnya sendiri dari dalam bilik, kamu tahu: “Tadi itu aku.”

Maka, Inilah Beberapa Tips Bertahan Hidup di Toilet Umum Saat Mules Melanda

Bukan untuk gaya-gayaan. Tapi untuk harga diri.

1. Gunakan Lapisan Toilet Paper atau Tisu di Permukaan Air

Ini teknik klasik. Sebelum kamu mulai segala urusan, ambil beberapa lembar tisu dan taruh di permukaan air kloset. Tujuannya sederhana: meredam suara jatuhnya hajat.

Bayangkan, kamu lagi di toilet mal yang sepi. Di bilik sebelah, ada orang yang cuci tangan. Kalau kamu langsung tembak tanpa persiapan, efek suaranya bisa memantul ke seluruh penjuru ruangan seperti drum band kecil yang tak diundang.

Tisu di permukaan air itu ibarat bantal kecil bagi tai. Ia jatuh dengan lebih tenang, tanpa cemplung yang membongkar rahasia.

2. Siram Dulu Sebelum Memulai

Ini tipuan psikologis. Dengan menyiram dulu, kamu bisa menciptakan bunyi air mengalir yang bisa menutupi suara tubuh. Kadang yang dibutuhkan itu bukan keheningan, tapi kamuflase bunyi.

Kamu bisa menyiram sedikit-sedikit selama proses berlangsung. Seolah-olah kamu sedang sangat peduli pada kebersihan, padahal kamu sedang menyamarkan dentuman dari dalam.

3. Hembuskan Napas Pelan Saat Bunyi Akan Datang

Kedengarannya aneh, tapi ini berhasil.

Saat kamu merasa bahwa “momen itu akan tiba”, hembuskan napas perlahan. Bukan untuk meredam suara, tapi untuk membuat tubuhmu lebih rileks. Kadang suara yang terlalu keras justru muncul karena kamu terlalu tegang.

Jadi, rileks. Terima kenyataan. Kita semua manusia. Bahkan presiden pun pernah cemplung di tempat umum. Hanya saja, dia mungkin punya asisten yang berjaga di depan pintu.

4. Gunakan Tisu Basah atau Aroma yang Bisa Membantu

Kalau kamu orang yang persiapan, bawa tisu basah atau cairan pewangi kecil.

Bau adalah senjata dua arah. Bukan hanya bisa membunuh semangat orang lain, tapi juga bisa membunuh kepercayaan diri sendiri. Jangan sampai kamu keluar dari bilik dan semua orang langsung menoleh karena aroma yang kamu tinggalkan seperti kenangan pahit di musim hujan.

Dengan tisu basah atau pewangi, kamu bisa minimalisir jejak.

5. Tunggu Suara Latar

Ini trik yang sudah aku uji sendiri. Tunggu momen saat ada suara lain: pintu dibuka, keran dinyalakan, alat pel diseret-seret. Di saat itulah kamu lepaskan.

Bukan karena kamu pemalu. Tapi karena kamu menghargai ketenangan umum.

Toilet umum itu kadang seperti ruang konser kecil. Bunyi sekecil apapun bisa terdengar dramatis. Maka, tunggulah latar yang tepat untuk memainkan nada utama.

6. Jangan Menunggu Terlalu Lama

Jangan terlalu banyak pertimbangan. Kalau sudah waktunya, ya keluarkan saja. Menahan-nahan bisa bikin kamu malah jadi panik sendiri, dan akhirnya malah semua tak terkendali.

Kadang kita terlalu banyak berpikir soal reaksi orang lain. Padahal semua orang pernah dalam posisi yang sama.

Kalau kamu menunggu sampai toilet kosong benar, percayalah: toilet umum tak pernah benar-benar kosong. Akan selalu ada orang lain, datang dan pergi, mencuci tangan, atau hanya sekadar bercermin terlalu lama.

7. Jangan Terlalu Banyak Gaya

Jangan main ponsel terlalu lama. Jangan coba-coba menelpon sambil BAB. Jangan nyetel musik keras-keras di bilik. Fokus saja pada urusan utama: mengeluarkan. Bukan menciptakan pertunjukan tambahan.

Karena saat kamu di dalam bilik itu, kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya seorang manusia yang sedang berusaha berdamai dengan sistem pencernaannya.

Dan Setelah Semua Selesai…

Kamu keluar, cuci tangan, bercermin sebentar, lalu melangkah pergi.

Kadang, kamu akan bertemu tatapan orang yang datang belakangan. Mereka mungkin tahu, mereka mungkin tidak. Tapi kamu sudah menyelesaikan urusanmu dengan baik.

Dan di dunia yang penuh kekacauan ini, menyelesaikan satu sesi BAB dengan selamat di toilet umum adalah pencapaian kecil yang patut kamu rayakan dalam hati.

Bukan karena kamu luar biasa. Tapi karena kamu bertahan.


BAB di toilet umum adalah pengalaman spiritual yang tidak diajarkan di sekolah.

Tapi dari semua ketidaknyamanan itu, kita belajar sesuatu: kadang, kelegaan terbesar datang dari tempat yang paling tak nyaman.

Dan dalam hidup ini, itu pelajaran yang bisa kamu bawa ke mana-mana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...