Langsung ke konten utama

Jamu Pertamaku yang Rasanya Mirip Sumpah Jabatan

 


“Jamu itu bukan sekadar minuman. Tapi upacara sunyi antara tubuh, tanah, dan kenangan yang nggak pernah dijelaskan dengan kata-kata.”


Aku lupa persisnya kapan, tapi yang jelas saat itu aku belum cukup dewasa untuk sadar bahwa hidup ini isinya bukan cuma teh manis dan sirup merah.

Temanku mengajak mampir ke kios jamu di pinggir pasar. “Cobain, ini sehat,” katanya sambil nyengir.

Karena waktu itu aku lagi pilek, masuk angin, dan sedikit patah hati, aku pikir—ya, kenapa tidak. Badan sudah lelah, pikiran pun butuh pelampiasan.

Dia bilang, “Ambil yang ringan aja. Beras kencur. Rasanya manis kok.”

Aku percaya.

Segelas kecil disodorkan. Warnanya cokelat keruh, dengan aroma yang seperti campuran tanah habis hujan dan dapur rempah yang ngambek.

Aku teguk setengah.

Dan langsung merasa seperti barusan dicubit bumi.

Ada sensasi aneh di kerongkongan. Seolah lidahku sedang negosiasi damai dengan rasa pahit, manis, hangat, dan getir yang datang bersamaan tanpa aba-aba.

Keringat keluar. Tapi bukan keringat segar. Ini lebih ke keringat bingung—yang muncul bukan karena panas, tapi karena tubuh nggak yakin sedang disembuhkan atau disiksa.

Temanku tertawa melihat wajahku yang terdiam seperti sedang membaca puisi tentang penderitaan rakyat.

“Katanya manis,” aku bisik, sambil napas terhenti setengah.

Dia jawab, “Itu baru seteguk. Biasanya habis dua kali minum, baru kamu tahu rasanya hidup.”

Entah kenapa, minum jamu pertama kali rasanya kayak upacara adat. Kayak ada bagian dari diriku yang didaftarkan secara resmi ke dalam sistem kebugaran tradisional nenek moyang.

Tidak ada surat pernyataan. Tidak ada sanksi. Tapi rasanya resmi.

Seperti bersumpah:
“Aku bersedia menerima pahit, getir, dan segala hal yang tidak dijelaskan label.”
“Demi tubuh yang lebih kuat, dan hati yang lebih tabah.”

Yang aneh, setelah beberapa menit, tubuhku memang merasa… aneh. Tapi juga ringan. Seperti baru saja dilap bersih dari dalam.
Mulutku masih belum tahu harus berkata apa. Tapi perutku, sepertinya sedang berdamai.

Aku mulai memperhatikan. Jamu-jamu itu punya nama-nama yang seperti kode: kunyit asam, pahitan, sinom, beras kencur.

Lembut di telinga. Tapi ketika masuk ke mulut, tidak ada yang lembut.

“Pahitan” misalnya. Nama yang jujur. Tapi juga menipu, karena kamu pikir kamu siap. Padahal tidak.

Aku pernah tanya ke penjualnya, “Pahitan ini isinya apa aja, Mbok?”

Dia jawab sambil tertawa, “Yang penting bisa nyembuhin. Rasa itu urusan belakangan.”

Aku manggut-manggut, walau tubuhku tidak setuju.
Tapi mungkin, memang begitu logika jamu: percaya dulu, sembuh kemudian.
Kayak hubungan jangka panjang—kalau kamu tahan, kamu dapat hasilnya.


Sekarang, aku nggak sering-sering minum jamu. Tapi kalau lagi lewat kios jamu, dan mencium aroma khas itu… ada sesuatu yang menghangat di dada.

Bukan hanya ingatannya. Tapi perasaan bahwa aku pernah melewati satu tahap kecil dalam hidup: dicicipi oleh rasa yang tidak manis, tapi membuatku merasa lebih… utuh.


Rasa jamu memang pahit.
Tapi mungkin, itu cara tradisi bilang, “Kamu kuat. Ini cuma awal.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...