![]() |
| Girlboss yang Parkirnya Selalu Diantar Sopir Berumur Lima Puluh Tahun |
Sejak dulu aku punya satu kebingungan yang tidak pernah berhasil dijelaskan oleh algoritma media sosial, padahal algoritma biasanya tahu aku lebih baik daripada keluargaku sendiri.
Kebingungan itu muncul setiap kali aku melihat seorang perempuan muda, cantik, berpose di depan mobil Eropa berkilau, menulis caption tentang kerja keras, mimpi, dan kemandirian, lalu di akhir kalimat menyelipkan emoji api dan tas mahal.
Aku bukan tidak percaya pada kerja keras. Aku hanya bingung dengan kecepatan hasilnya.
Aku ini tipe orang yang kalau kerja keras hasilnya paling naik berat badan dan lingkar mata. Jadi ketika ada bisnis yang katanya baru beberapa tahun berdiri lalu sudah bisa menghasilkan ratusan kali lipat modal awalnya, aku mulai merasa ada bab tambahan yang tidak dicetak.
Dulu di tempat kerjaku, aku punya seorang klien yang cukup sering bertemu denganku. Awalnya hubungan kami profesional. Lama-lama jadi semi profesional. Kami ngobrol di luar kerja, meskipun tidak sampai saling curhat soal masa kecil.
Dia pria berkeluarga, punya empat anak, wajahnya seperti ayah yang selalu bilang pulang cepat tapi tidak pernah benar-benar cepat. Suatu hari dalam percakapan santai, dia mengakui satu identitas tambahan yang tidak tertulis di kartu nama.
Dia seorang gadun.
Istilah itu awalnya terdengar seperti nama karakter dalam film silat, padahal artinya cukup sederhana. Pria paruh baya yang menjalin hubungan dengan perempuan jauh lebih muda, biasanya disertai transaksi materi.
Dia mengatakannya dengan santai, seperti orang mengaku hobi main golf. Aku hanya mengangguk pelan sambil dalam hati berkata, ‘Baik, hari ini aku belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah.’
Dia punya seorang simpanan yang ternyata cukup terkenal di Instagram. Seorang influencer dengan pengikut ratusan ribu, bahkan mungkin lebih. Di akun itu ada seorang pria muda yang sering muncul. Usianya sebaya dengan si influencer. Tampan. Fotogenik. Seolah pasangan ideal generasi masa kini.
Ketika aku bertanya, klienku tersenyum tipis dan berkata, “Itu sepupunya.” Sepupu yang kebetulan selalu bergandengan tangan dan liburan berdua ke Bali. Aku tidak tahu di keluarga mana definisi sepupu seluas itu. Katanya itu bagian dari topeng si influencer untuk menutupi hubungan gelap mereka.
Sejak saat itu, pikiranku mulai berputar. Aku memahami kalau seseorang memang publik figur, ya wajar bersosial media. Itu bagian dari pekerjaan. Tapi yang membuatku heran, banyak ani-ani yang kuketahui awalnya bukan siapa-siapa di ruang publik.
Setelah mendapatkan dana dari seseorang yang sudah punya istri dan empat anak, tiba-tiba mereka lahir kembali sebagai sosialita, wanita independen, CEO muda dengan kutipan motivasi yang terdengar seperti diambil dari kalender meja.
Belum lama ini aku bertemu seorang perempuan yang lebih membuatku terdiam. Dia dikenal sebagai pebisnis muda sukses. Pengikutnya tembus satu juta di salah satu sosial media.
Setiap postingannya penuh pujian tentang kemandirian dan kecerdasan. Aku bertemu dengannya dalam konteks pekerjaan, jadi tentu saja aku penasaran dengan model bisnisnya. Toko yang dia miliki sebenarnya tergolong kecil. UMKM yang manis. Baru berjalan empat tahun. Empat tahun itu bagi kebanyakan orang adalah fase belajar, salah strategi, bangun lagi, menangis sedikit, lalu mencoba lagi.
Tapi di sini hasilnya lain. Rumah hampir sepuluh miliar. Beberapa mobil Eropa dengan harga satuannya miliaran. Aku mencoba bertanya soal arus kas, soal margin, soal ekspansi. Dia tersenyum dan menjawab dengan kalimat yang terdengar seperti ringkasan dari seminar motivasi, bukan jawaban teknis.
Semakin aku menggali, semakin terlihat bahwa pengetahuannya tentang bisnis sangat terbatas. Aku mulai merasa seperti dosen yang tanpa sengaja salah masuk kelas.
Beberapa hari kemudian, seorang rekan kerja memberitahuku dengan nada yang berusaha netral, bahwa perempuan itu adalah simpanan seorang politikus berpengaruh. Di situ aku duduk diam cukup lama. Bukan karena kaget. Lebih karena bingung. Kalau memang identitasnya sensitif seperti itu, mengapa justru tampil sebagai publik figur yang sangat terlihat?
Aku mencoba memahami dengan cara yang mungkin terlalu serius untuk urusan yang sebenarnya bukan urusanku. Ada dua kemungkinan yang muncul di kepalaku.
Pertama, mungkin ini strategi keluar. Mungkin menjadi influencer dan membangun bisnis adalah cara untuk melepaskan ketergantungan. Dengan popularitas, dia bisa mendapatkan endorsement, kerja sama, uang dari sumber lain. Mungkin ini proses evolusi. Dari simpanan menjadi mandiri, setidaknya di atas kertas.
Kemungkinan kedua lebih sinis tapi tetap logis. Mungkin personal branding sebagai wanita sukses dan independen adalah magnet untuk menarik pria kaya yang lebih muda, lebih tampan, lebih sesuai dengan feed Instagram. Seperti sedang melakukan rebranding diri. Dari bab satu ke bab dua. Dari gadun ke pangeran muda.
Kalau bukan dua itu, aku benar-benar kehabisan teori.
Yang membuatku lebih heran adalah keberanian untuk pamer. Pamer rumah. Pamer mobil. Pamer tas. Seolah semuanya hasil dari lembur dan doa pagi.
Aku bukan polisi moral. Aku hanya orang yang terlalu banyak berpikir. Kadang aku membayangkan bagaimana rasanya hidup dalam dua dunia. Di satu sisi ada caption tentang kemandirian. Di sisi lain ada transfer rutin dari pria yang harus pulang ke rumah dan mencium kening anaknya.
Aku pernah duduk di mobil klien gadun itu. Dia menerima telepon dari istrinya. Nada suaranya berubah menjadi lembut dan teratur. Setelah menutup telepon, dia kembali membahas rencana liburan dengan perempuan yang bukan istrinya. Aku duduk di kursi penumpang merasa seperti figuran dalam drama yang tidak ingin kutonton.
Di media sosial semuanya terlihat bersih. Foto estetik. Filter hangat. Kutipan tentang self love. Tidak ada foto amplop. Tidak ada foto rekening bersama. Tidak ada foto anak empat yang menunggu ayahnya pulang.
Kadang aku berpikir mungkin yang kita sebut kemandirian memang definisinya lentur. Mungkin ada orang yang merasa mandiri selama bisa memilih tasnya sendiri, meskipun uangnya berasal dari dompet orang lain. Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa hidupku jauh lebih sederhana. Aku kalau beli kopi saja masih menghitung promo.
Ada bagian dari diriku yang ingin menghakimi. Tapi bagian itu biasanya kalah oleh bagian lain yang lebih realistis. Dunia memang penuh transaksi. Ada yang jelas. Ada yang tersamar. Hanya saja ketika transaksi itu dibungkus narasi perjuangan pribadi, aku mulai merasa seperti sedang menonton sulap yang kurang rapi.
Aku juga sadar bahwa mungkin mereka tidak peduli dengan kebingunganku. Mungkin bagiku ini paradoks moral. Bagi mereka ini hanya strategi hidup. Siapa aku untuk mengatur alur cerita orang lain? Aku bahkan sering salah mengatur alur ceritaku sendiri.
Yang membuatku paling terpaku adalah fenomena pengikut. Jutaan orang melihat, memuji, terinspirasi. Tidak tahu bab di balik layar. Atau mungkin tahu dan tidak peduli.
Media sosial memang seperti etalase. Yang ditampilkan hanya sisi yang mengilap. Tidak ada yang mengunggah percakapan canggung dengan pria lima puluh tahun yang sudah punya keluarga.
Kadang aku bertanya dalam hati, ‘Apakah ini tentang uang, atau tentang cerita yang ingin dipercaya orang lain?’
Mungkin yang dijual bukan tas atau rumah. Yang dijual adalah ilusi bahwa semuanya bisa diraih dengan kerja keras versi caption.
Aku tidak punya kesimpulan. Aku hanya punya kebingungan yang terawat. Setiap kali melihat unggahan tentang wanita independen dengan mobil baru, aku teringat klien yang menyebut sepupu dengan senyum tipis. Dunia ini penuh peran. Ada yang berperan sebagai suami setia. Ada yang berperan sebagai influencer inspiratif. Ada yang berperan sebagai penonton seperti aku.
Aku masih heran, ya. Tapi mungkin heran adalah satu-satunya reaksi jujur yang kupunya. Di antara rumah sepuluh miliar dan toko kecil yang belum genap lima tahun, di antara caption tentang mimpi dan transfer rutin yang tak terlihat, aku hanya bisa duduk dan berpikir bahwa hidup ternyata lebih rumit daripada feed Instagram.
Dan mungkin, pada akhirnya, yang paling jujur dari semua ini adalah rasa bingungku sendiri.

Komentar
Posting Komentar