![]() |
| Hal-Hal yang Tidak Bisa Dibeli Saat Saldo Tinggal Lima Puluh Ribu |
Banyak orang yang mengenalku sekarang punya gambaran yang cukup rapi tentang hidupku. Gambaran yang kalau dilihat dari luar kelihatan seperti brosur perjalanan.
Pernah kerja delapan tahun di luar negeri. Pernah mengunjungi sekitar lima puluh negara. Pekerjaan sekarang cukup nyaman. Belum menikah karena katanya masih menikmati hidup. Kadang masih sering ditugaskan ke luar negeri juga. Semua terdengar seperti hidup seseorang yang kalau masuk ruangan pasti langsung dipanggil untuk cerita pengalaman.
Kadang aku duduk mendengarkan mereka bicara tentang hidupku seperti sedang menonton orang lain menceritakan film yang aku sendiri lupa pernah main di dalamnya. Mereka menyebut negara-negara yang pernah aku datangi seperti daftar tempat liburan. Jepang. Jerman. Turki. Kanada. Ada yang bilang dengan nada kagum, "Enak ya hidup kamu."
Aku biasanya cuma senyum kecil. Bukan karena ingin terlihat misterius. Lebih karena otakku sedang sibuk memutar satu kenangan lama yang agak kontras dengan bayangan mereka. Kenangan tentang sepiring nasi putih yang dimakan dengan garam.
Kadang kalau lagi beruntung, ada kecap manis. Waktu itu aku menyebutnya nasi goreng tanpa digoreng. Konsepnya sama saja dengan nasi goreng, cuma tanpa minyak, tanpa wajan, tanpa telur, tanpa apa pun yang biasanya membuat nasi goreng pantas disebut nasi goreng.
Yang ada hanya nasi, garam, dan keyakinan bahwa besok mungkin makanannya lebih menarik.
Aku tidak pernah merasa adegan itu tragis. Lebih sering terasa seperti eksperimen kuliner yang terlalu sederhana untuk masuk buku resep.
Yang lebih menarik sebenarnya bukan makanannya. Yang lebih menarik adalah bagaimana otak manusia bisa begitu kreatif ketika dompetnya kosong.
Aku pernah berada di titik di mana saldo di bank tinggal lima puluh ribu rupiah. Dan itu bukan lima puluh ribu yang bisa dipakai. Itu lima puluh ribu yang tidak boleh disentuh karena kalau diambil, rekeningnya bisa mati.
Jadi secara teknis aku punya uang. Tapi secara praktis aku miskin.
Itu seperti punya payung yang tidak boleh dibuka saat hujan.
Atau punya AC yang tidak boleh dinyalakan saat Jakarta bulan Mei.
Aku ingat waktu itu berdiri di depan ATM cukup lama. Bukan karena mesin ATM-nya rusak. Aku yang sedang mencoba melakukan negosiasi mental dengan angka lima puluh ribu itu.
'Kalau aku tarik empat puluh ribu, mungkin banknya tidak marah.'
Sayangnya mesin ATM tidak punya selera humor.
Aku tidak jadi menarik apa pun. Lima puluh ribu itu tetap tinggal di sana, seperti penjaga kecil yang menjaga agar rekeningku tidak resmi dinyatakan meninggal.
Di lain waktu aku pernah mendorong motor di pinggir jalan karena bensinnya habis dan uang untuk membeli bensin juga habis. Mendorong motor sebenarnya aktivitas yang cukup filosofis kalau dilakukan cukup lama.
Awalnya kita berpikir, 'Ini sebentar saja.'
Lima menit kemudian kita mulai mempertanyakan keputusan hidup.
Sepuluh menit kemudian kita mulai memperhatikan hal-hal kecil di sekitar. Pohon. Trotoar. Orang lewat yang melihat kita dengan tatapan campuran antara simpati dan hiburan.
Ada satu bapak yang sempat berhenti dan bertanya, "Mogok?"
Aku ingin menjawab dengan jujur bahwa motornya sebenarnya tidak mogok. Motornya hanya kehabisan bensin karena pemiliknya kehabisan uang. Tapi penjelasan itu terasa terlalu panjang untuk percakapan di pinggir jalan.
Jadi aku hanya mengangguk.
Kadang aku berpikir masa-masa itu seperti pelatihan karakter yang tidak pernah aku daftar secara resmi.
Aku pernah bekerja di banyak pekerjaan yang sekarang kalau disebutkan satu per satu terdengar seperti daftar pekerjaan di acara kuis.
Aku pernah jadi waiter. Aku pernah jadi badut kostum di sebuah acara ulang tahun anak-anak. Aku pernah membantu pekerjaan pindahan, mengangkat lemari orang yang entah kenapa selalu lebih berat saat harus naik tangga.
Badut kostum sebenarnya pekerjaan yang cukup menarik. Dari luar kelihatannya menyenangkan. Kita memakai kostum besar, anak-anak tertawa, musik diputar. Tapi dari dalam kostum itu dunia terasa sedikit berbeda.
Udara panas. Pandangan terbatas. Dan ada anak kecil yang kadang memukul perut kostum kita dengan penuh semangat, mungkin karena mereka ingin memastikan apakah karakter kartun itu benar-benar hidup.
Aku pernah berdiri di tengah pesta ulang tahun sambil berpikir, 'Hidupku menarik juga.'
Tidak semua orang bisa mengatakan bahwa mereka pernah dipukul oleh anak kecil yang sangat bahagia saat sedang menyamar sebagai beruang.
Pekerjaan pindahan juga punya pelajaran sendiri. Tidak ada cara yang lebih cepat untuk memahami kehidupan seseorang selain mengangkat barang-barangnya dari satu rumah ke rumah lain.
Ada kotak buku yang beratnya seperti dosa masa lalu. Ada lemari yang entah bagaimana tidak pernah muat di pintu. Dan selalu ada satu kursi yang bentuknya sederhana tapi beratnya seperti kursi itu menyimpan rahasia keluarga.
Setiap kali mengangkat barang-barang itu, aku sering membayangkan cerita orang yang punya barang tersebut.
Sementara aku sendiri saat itu hidup cukup sederhana. Barangku tidak banyak. Kalau suatu hari aku harus pindah rumah, mungkin aku bisa memindahkan seluruh hidupku dengan satu tas besar.
Waktu itu aku juga bekerja sambil menempuh pendidikan. Jadi hidup terasa seperti dua jalur kereta yang berjalan bersamaan. Di satu sisi ada kelas, tugas, ujian. Di sisi lain ada pekerjaan yang kadang berubah-ubah.
Aku cepat bosan. Itu salah satu kelemahanku. Tapi kadang kelemahan juga bisa berubah jadi cara bertahan hidup.
Karena cepat bosan, aku mencoba banyak pekerjaan. Karena mencoba banyak pekerjaan, aku belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas.
Aku belajar cara membawa tiga piring sekaligus tanpa menjatuhkan sup. Aku belajar cara tersenyum kepada orang yang sedang marah karena pesanannya terlambat. Aku belajar cara mengangkat sofa tanpa menghancurkan punggung.
Semua pelajaran itu tidak pernah muncul di ijazah. Tapi anehnya justru pelajaran itu yang paling sering kepakai dalam hidup.
Setelah menyelesaikan pendidikan, aku berani mencoba pergi ke luar negeri. Itu bukan keputusan yang terlihat heroik pada saat itu. Lebih terasa seperti seseorang yang melihat peta dan berkata, 'Ya sudah, kita coba saja.'
Delapan tahun berikutnya aku bekerja di sekitar dua puluh negara. Angka itu sering terdengar mengesankan kalau disebutkan di meja makan atau dalam percakapan santai.
Tapi di balik angka itu sebenarnya ada banyak hari yang sangat biasa. Hari-hari di mana aku hanya bekerja, pulang, makan, dan mencoba memahami kota baru yang kadang terasa asing.
Aku juga belum berdamai dengan banyak hal waktu itu. Hidup terasa seperti rangkaian tugas yang harus diselesaikan. Aku belum menggunakan humor sebagai cara menghadapi luka. Waktu itu aku lebih sering menggunakan diam.
Baru belakangan aku sadar bahwa humor ternyata seperti kunci kecil yang bisa membuka banyak pintu di dalam kepala.
Sekarang kalau orang melihat hidupku dan hanya melihat bagian yang rapi, aku tidak terlalu terganggu. Itu wajar. Manusia memang cenderung melihat hasil akhirnya saja.
Jarang ada yang membayangkan adegan seseorang berdiri di depan ATM sambil bernegosiasi dengan saldo lima puluh ribu.
Atau seseorang yang berjalan pelan di pinggir jalan sambil mendorong motor dan berharap pom bensin berikutnya tidak terlalu jauh.
Aku tidak pernah merasa malu pernah hidup miskin. Justru banyak bagian dari diriku yang terbentuk dari masa-masa itu.
Kalau sekarang aku makan di restoran yang agak mahal, aku masih bisa menikmati makanan itu. Tapi di kepalaku kadang muncul perbandingan kecil yang cukup jujur.
'Nasi ini enak juga. Tapi dulu nasi sama garam juga tidak terlalu buruk.'
Miskin memang bukan sesuatu yang perlu dipermalukan. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa miskin itu romantis.
Miskin itu tidak enak. Banyak haduhnya.
Haduh saat melihat harga bensin. Haduh saat menghitung sisa uang di dompet. Haduh saat berharap besok ada pekerjaan tambahan yang bisa menutup lubang kecil di keuangan.
Tapi di antara semua haduh itu, ada juga banyak cerita yang tidak mungkin muncul kalau hidup selalu nyaman.
Aku pernah bertemu orang-orang yang aneh, lucu, baik, dan kadang sedikit gila dalam pekerjaan-pekerjaan kecil itu. Aku belajar bahwa manusia bisa sangat sabar ketika harus bekerja, dan sangat kreatif ketika harus bertahan.
Kadang aku merasa hidup ini seperti kumpulan pekerjaan paruh waktu yang kebetulan tersambung menjadi satu cerita panjang.
Ada bagian di mana aku menjadi waiter yang mencoba tidak menumpahkan minuman. Ada bagian di mana aku menjadi badut yang dipukul anak kecil. Ada bagian di mana aku mendorong motor sambil menertawakan nasib sendiri.
Dan sekarang ada bagian di mana orang melihat hidupku dari luar dan berpikir semuanya selalu rapi sejak awal.
Padahal sebenarnya tidak.
Tapi mungkin memang begitu cara hidup bekerja. Dia jarang memperlihatkan prosesnya dengan jelas. Orang biasanya hanya melihat foto sebelum dan sesudah.
Sementara bagian tengahnya penuh keringat, nasi dengan garam, dan saldo bank yang harus dijaga agar tidak turun di bawah lima puluh ribu.
Kalau dipikir-pikir, mungkin itu sebabnya sekarang aku cukup mudah tertawa pada banyak hal kecil. Karena aku pernah hidup cukup lama di tempat di mana tertawa adalah salah satu cara paling murah untuk tetap waras.
Dan sampai sekarang aku masih percaya satu hal sederhana. Tidak perlu malu pernah miskin. Yang penting kita tetap bergerak, tetap mencoba, tetap mendorong motor kalau memang harus.
Walaupun jujur saja, kalau bisa sih mending isi bensin.

Komentar
Posting Komentar