Langsung ke konten utama

Self Service Tapi Tetap Kena Service Charge

 

Aku Dilayani Oleh Diriku Sendiri, Tapi Restorannya yang Menagih

Restoran yang Meminta Service Charge Tanpa Pernah Melayani

Beberapa waktu lalu aku memutuskan melakukan sesuatu yang sangat berani untuk laki-laki seusia aku.

Aku pergi jalan-jalan sendirian di akhir pekan.

Bukan karena aku penyendiri.
Lebih karena semua temanku sudah mulai hidup seperti manusia dewasa yang serius.

Ada yang sibuk dengan anak.
Ada yang sibuk dengan pasangan.
Ada juga yang sibuk dengan cicilan yang bentuknya rumah tapi rasanya seperti kontrak dengan masa depan.

Sementara aku, di usia yang sudah mendekati kepala empat, masih sesekali mencoba berpura-pura seperti laki-laki dua puluhan.

Aku bangun siang.
Pakai kaos yang sedikit terlalu trendi untuk umurku.
Melihat cermin dan berpikir, 'Masih lumayan.'

Kalimat itu penting.

"Masih lumayan" adalah standar kecantikan laki-laki yang sudah tidak lagi muda tapi juga belum sepenuhnya menyerah.

Untungnya, karena aku belum menikah dan belum punya anak, ilusi itu masih cukup meyakinkan.

Setidaknya sampai aku berdiri terlalu lama dan lututku mulai berbunyi seperti kursi plastik.

Jakarta di akhir pekan punya dua mode.

Macet dan lebih macet.

Karena itu aku memutuskan tidak pergi jauh-jauh.
Cukup keliling di sekitar rumah.

Tujuannya sederhana.

Makan sesuatu yang enak, duduk santai, lalu pulang dengan perasaan bahwa hidup masih bisa dinikmati tanpa harus memikirkan spreadsheet masa depan.

Setelah berjalan beberapa blok, aku melihat sebuah restoran yang belum pernah aku perhatikan sebelumnya.

Tempatnya terlihat cukup modern.

Lampunya hangat.
Interiornya minimalis.
Ada tanaman kecil di meja.

Jenis tempat yang biasanya disukai orang yang minum kopi sambil berpura-pura membaca buku.

Aku masuk.

Begitu duduk, aku langsung menyadari satu hal yang sangat khas restoran zaman sekarang.

Tidak ada menu.

Di atas meja hanya ada sebuah kartu kecil dengan kotak hitam putih yang terlihat seperti barcode yang sedang depresi.

QR code.

Aku menatap kartu itu sebentar.

'Aku cuma mau makan.'

Tapi sekarang, untuk makan, aku harus melakukan proses digital yang biasanya dipakai untuk membuka tiket konser.

Aku keluarkan ponsel.

Scan.

Muncul halaman menu.

Lalu ternyata untuk memesan pun harus lewat QR yang sama.

Aku duduk di kursi sambil mengetik pesanan di layar.

Di titik itu aku mulai merasa seperti sedang mengisi formulir pajak, bukan memesan makan siang.

Generasi milenial seperti aku sebenarnya cukup akrab dengan teknologi.

Tapi entah kenapa, ketika lapar, semua teknologi terasa sedikit lebih menyebalkan.

Setelah beberapa menit, pesanan berhasil masuk.

Tidak lama kemudian ponselku bergetar.

Notifikasi.

Pesanan sudah siap.

Aku menunggu sebentar.

Tidak ada yang datang.

Aku melihat sekitar.

Semua orang berdiri dan berjalan ke sebuah meja di ujung ruangan.

Ternyata pesanan harus diambil sendiri.

Aku berdiri.

Berjalan.

Mengambil nampan berisi makanan yang baru saja aku pesan melalui sistem digital yang cukup panjang untuk sesuatu yang akhirnya harus aku ambil sendiri.

Aku kembali ke meja sambil berpikir, 'Baiklah.'

Makanan itu terlihat cukup bagus.

Presentasinya rapi.

Ada saus kecil yang ditata artistik seperti lukisan modern.

Aku mulai makan.

Rasanya... biasa saja.

Tidak buruk.

Tapi juga tidak membuatku merasa hidupku berubah.

Masalahnya bukan pada rasa.

Masalahnya pada harga.

Porsi makanan ini dihargai seperti dia baru saja memenangkan penghargaan kuliner internasional.

Padahal rasanya lebih dekat ke kategori "lumayan".

Aku makan pelan-pelan sambil melihat sekeliling.

Semua orang melakukan hal yang sama.

Duduk.

Menatap ponsel.

Mengambil makanan sendiri.

Makan.

Tidak ada interaksi.

Restoran ini terasa seperti versi fisik dari aplikasi.

Setelah selesai makan, aku memutuskan untuk meminta bill.

Aku melihat sekitar.

Tidak ada pelayan.

Aku berdiri dan berjalan ke kasir.

Ternyata untuk membayar, kita juga harus ke kasir langsung.

Dan antre.

Aku berdiri di barisan kecil bersama beberapa orang lain yang wajahnya terlihat... mirip.

Ekspresi universal manusia yang baru saja menyadari sesuatu tidak sepadan dengan uangnya.

Beberapa orang melihat struk mereka.

Beberapa orang hanya menghela napas.

Aku sampai di depan kasir.

Struk dicetak.

Aku melihatnya.

Dan di situlah aku menemukan sesuatu yang membuat otakku berhenti beberapa detik.

Service charge.

Aku menatap angka itu.

Lalu aku menatap restoran itu.

Lalu aku menatap kembali struknya.

'Service... yang mana?'

Aku mencoba mengingat seluruh proses makan tadi.

Aku scan menu sendiri.

Aku pesan sendiri.

Aku ambil makanan sendiri.

Aku makan sendiri.

Aku bayar sendiri.

Kalau dipikir-pikir, satu-satunya hal yang tidak aku lakukan sendiri mungkin hanya memasak makanannya.

Tapi bukankah itu memang sudah termasuk dalam harga makanan?

Kalau logika itu dipakai, nanti tukang bakso juga bisa menambahkan service charge karena dia sudah memasak baksonya.

Aku berdiri di sana cukup lama.

Kasir menatapku.

Aku menatap struk.

Ada momen kecil di kepalaku di mana aku ingin bertanya sesuatu.

"Maaf, servicenya di mana?"

Tapi kemudian aku mengingat satu hal yang sangat penting tentang hidup.

Kadang kita terlalu lelah untuk berdebat tentang sesuatu yang sebenarnya tidak akan berubah.

Jadi aku membayar.

Mengambil struk.

Dan berjalan keluar.

Di luar restoran, udara Jakarta terasa sedikit lebih panas dari biasanya.

Aku berjalan pulang dengan perasaan yang agak aneh.

Bukan marah.

Lebih seperti kecewa kecil yang tidak cukup besar untuk menjadi drama, tapi cukup untuk merusak suasana hati.

Aku tadi keluar rumah dengan niat menikmati akhir pekan.

Berpura-pura menjadi laki-laki dua puluhan yang santai dan bebas.

Sekarang aku pulang dengan perasaan seperti seseorang yang baru saja membayar biaya layanan untuk melayani dirinya sendiri.

Aku mulai berpikir.

Mungkin ini konsep bisnis baru.

Self service... dengan service charge.

Kalau logika ini diterapkan ke hal lain, hidup bisa menjadi sangat menarik.

Bayangkan kamu mencuci mobil sendiri.

Lalu pemilik tempat cuci mobil datang dan berkata, "Terima kasih sudah menggunakan fasilitas kami. Ada service charge."

Atau kamu masak mie instan di rumah.

Lalu Indomie mengetuk pintu dan berkata, "Kami melihat Anda menggunakan produk kami. Ada biaya pelayanan."

Semakin aku memikirkan itu, semakin aku merasa dunia modern punya cara yang sangat kreatif untuk membuat kita membayar hal-hal yang tidak kita minta.

Aku sampai di depan rumah.

Mood akhir pekanku sudah berubah.

Bukan karena makanan itu buruk.

Bukan karena uangnya mahal.

Tapi karena ada sesuatu yang terasa sedikit tidak masuk akal.

Aku membuka pintu rumah, duduk di sofa, dan menatap langit-langit sebentar.

Akhir pekan yang tadi terasa santai sekarang terasa sedikit... administratif.

Seperti hidup yang tiba-tiba mengirim invoice kecil untuk sesuatu yang tidak pernah kita pesan.

Dan aku mulai menyadari satu hal yang mungkin cukup lucu.

Di restoran tadi aku membayar service charge tanpa merasa dilayani.

Sementara di rumah ini, aku duduk sendirian, membuat teh sendiri, dan entah kenapa justru merasa lebih dilayani oleh diriku sendiri.

Mungkin karena di sini setidaknya aku tahu satu hal dengan pasti.

Kalau aku melakukan semuanya sendiri, setidaknya tidak ada yang menagih biaya pelayanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...