Langsung ke konten utama

Laki-Laki Jarang Curhat Karena Dunia Terlalu Suka Menghitung

 

Kadang Diam Bukan Karena Kuat, Tapi Karena Internet Terlalu Ramai

Pengakuan Seorang Laki-Laki yang Pernah Hampir Curhat di Internet

Aku selalu heran dengan satu pertanyaan yang sering muncul di dunia ini.

Kenapa laki-laki jarang bercerita?

Pertanyaan itu biasanya muncul di media sosial, di podcast hubungan, atau di caption foto senja yang terlalu serius untuk sebuah platform yang juga berisi video kucing jatuh dari meja.

"Aku cuma pengin laki-laki lebih terbuka."

"Aku cuma pengin laki-laki lebih jujur tentang perasaannya."

"Aku cuma pengin laki-laki mau bercerita."

Kalimat-kalimat seperti itu sering sekali muncul.

Dan setiap kali aku membaca itu, aku selalu merasa sedikit gugup.

Bukan karena aku tidak setuju.

Justru karena aku setuju.

Aku juga sebenarnya ingin bercerita.

Masalahnya, dunia sering memberikan contoh yang cukup jelas tentang apa yang terjadi kalau laki-laki benar-benar bercerita.

Beberapa waktu lalu aku melihat sebuah cerita kecil di internet.

Seorang laki-laki membuat sebuah postingan.

Tidak dramatis.
Tidak panjang.

Dia hanya menulis sesuatu yang sangat sederhana.

Dia mengatakan bahwa gajinya tiga juta rupiah.

Lalu dia berkata bahwa dia ingin menikah.

Dan dia bertanya apakah ada perempuan yang bersedia menjadi pasangannya dan menerima kondisinya.

Postingan yang sangat jujur.

Postingan yang sangat polos.

Postingan yang mungkin ditulis seseorang setelah terlalu lama memikirkan masa depan sambil menatap saldo rekening.

Aku membaca postingan itu dan berpikir, 'Oke, ini cukup berani.'

Karena tidak banyak orang yang mau mengakui kondisi finansialnya secara terbuka di internet.

Internet adalah tempat di mana semua orang tiba-tiba terlihat kaya.

Di sana orang memotret kopi mahal.
Mobil mahal.
Liburan mahal.

Tapi jarang sekali ada orang yang memotret saldo rekening sambil berkata, "Ini yang aku punya."

Laki-laki itu melakukannya.

Dan internet pun merespons.

Sayangnya, responsnya tidak seperti yang mungkin dia bayangkan.

Beberapa perempuan membalas postingan itu.

Tapi mereka tidak datang untuk berkata, "Aku menghargai kejujuranmu."

Sebagian besar datang untuk sesuatu yang lain.

Untuk menghujat.

Ada yang menulis bahwa tiga juta rupiah hanya cukup untuk perawatan anjingnya.

Aku membaca kalimat itu dan langsung membayangkan seekor anjing yang hidupnya lebih stabil secara finansial daripada sebagian manusia.

Ada juga yang menulis bahwa gaji mereka sudah dua digit.

Kalimat yang secara teknis benar, karena bahkan angka sepuluh juga dua digit.

Tapi maksudnya jelas.

Itu bukan informasi.

Itu pamer.

Ada yang menulis bahwa laki-laki seharusnya tidak berani menikah kalau gajinya hanya segitu.

Dan aku membaca semua komentar itu sambil memikirkan satu hal yang sangat sederhana.

Laki-laki itu sebenarnya tidak sedang melamar mereka.

Dia hanya menulis sesuatu yang jujur tentang hidupnya.

Kalau seseorang membaca postingan itu dan merasa bukan targetnya, sebenarnya sangat mudah untuk melakukan satu hal kecil.

Lewat saja.

Internet menyediakan fitur luar biasa bernama scroll.

Dengan satu gerakan jempol, kita bisa meninggalkan sesuatu tanpa meninggalkan luka.

Tapi entah kenapa banyak orang memilih untuk berhenti, mengetik, lalu menertawakan seseorang yang sudah cukup berani untuk berkata jujur.

Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi laki-laki itu.

Dia mungkin duduk di kamar.

Mengetik postingan itu dengan sedikit ragu.

Mungkin dia menghapus kalimatnya beberapa kali sebelum akhirnya menekan tombol kirim.

Lalu beberapa menit kemudian notifikasi mulai muncul.

Dan bukannya menemukan seseorang yang berkata, "Aku mengerti."

Dia justru menemukan banyak orang yang berkata, "Kamu tidak cukup."

Aku tidak mengenal laki-laki itu.

Tapi aku cukup mengenal dunia untuk tahu bahwa setelah pengalaman seperti itu, seseorang mungkin akan berpikir dua kali sebelum bercerita lagi.

Dan di situlah aku mulai memahami sesuatu yang sebenarnya cukup sederhana.

Laki-laki jarang bercerita bukan karena mereka tidak punya cerita.

Justru sebaliknya.

Cerita mereka terlalu banyak.

Cerita tentang pekerjaan yang tidak jelas.

Cerita tentang masa depan yang terasa seperti teka-teki tanpa petunjuk.

Cerita tentang tekanan untuk terlihat kuat bahkan ketika mereka tidak tahu harus kuat untuk apa.

Masalahnya bukan pada cerita.

Masalahnya pada respons yang sering datang setelah cerita itu keluar.

Bayangkan kamu berdiri di sebuah ruangan penuh orang.

Lalu kamu berkata dengan jujur, "Aku sedang kesulitan."

Dan seseorang menjawab, "Kesulitanmu itu kecil."

Orang lain berkata, "Aku lebih sukses darimu."

Dan seseorang lagi berkata, "Harusnya kamu tidak berada di posisi itu."

Setelah beberapa kali pengalaman seperti itu, manusia biasanya belajar sesuatu yang sangat praktis.

Diam.

Diam bukan selalu karena tidak punya sesuatu untuk dikatakan.

Kadang diam adalah cara paling efisien untuk menjaga harga diri tetap utuh.

Aku pernah melihat seorang teman laki-laki hampir bercerita.

Kami sedang duduk di sebuah warung kopi.

Dia menatap cangkirnya cukup lama.

Seperti sedang mencoba mencari jawaban di dalam busa kopi.

"Aku capek."

Kalimatnya pendek.

Aku menunggu dia melanjutkan.

Dia membuka mulutnya sedikit.

Lalu menutupnya lagi.

Akhirnya dia hanya tertawa kecil dan berkata, "Ah, sudahlah."

Dan percakapan itu pun berakhir.

Kadang aku merasa banyak laki-laki hidup seperti komputer lama.

Di dalamnya ada banyak file.

Tapi kebanyakan disimpan di folder yang jarang dibuka.

Bukan karena file itu tidak penting.

Justru karena terlalu penting.

Kalau dibuka di tempat yang salah, hasilnya bisa berantakan.

Hal yang ironis adalah dunia sering meminta laki-laki untuk lebih terbuka.

Tapi ketika seorang laki-laki benar-benar terbuka, respons yang datang sering terasa seperti audit.

Orang mulai menghitung.

Mengukur.

Membandingkan.

Seolah-olah kejujuran adalah sebuah laporan keuangan yang harus lolos pemeriksaan publik.

Aku tidak mengatakan semua perempuan seperti itu.

Jelas tidak.

Ada banyak perempuan yang mendengarkan dengan empati.

Ada banyak perempuan yang tidak menertawakan kerentanan seseorang.

Tapi satu pengalaman buruk di ruang publik sering cukup untuk membuat seseorang berpikir, 'Mungkin lebih aman diam saja.'

Internet punya kemampuan aneh untuk memperbesar rasa malu.

Di dunia nyata, kalau seseorang berkata sesuatu yang sedikit memalukan, mungkin hanya lima orang yang mendengarnya.

Di internet, ribuan orang bisa ikut tertawa.

Dan tawa kolektif itu bisa terasa seperti gempa kecil di dalam kepala seseorang.

Laki-laki dalam cerita tadi mungkin hanya ingin mencari seseorang yang mau berjalan bersamanya.

Dengan tiga juta rupiah.

Dengan hidup yang belum sempurna.

Dengan masa depan yang masih kabur.

Dia tidak menjanjikan mobil.

Tidak menjanjikan rumah.

Dia hanya menjanjikan dirinya sendiri.

Dan ternyata di dunia modern, itu bukan penawaran yang populer.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan laki-laki itu sekarang.

Mungkin dia menghapus postingannya.

Mungkin dia menutup akun media sosialnya.

Atau mungkin dia hanya duduk diam, menatap layar, sambil belajar satu pelajaran kecil tentang dunia.

Bahwa kejujuran kadang terasa seperti berdiri di panggung tanpa pakaian.

Semua orang bisa melihat.

Semua orang bisa berkomentar.

Dan tidak semua komentar itu baik.

Sejak melihat kejadian itu, aku mulai memahami kenapa banyak laki-laki memilih cara yang lebih sederhana.

Mereka bercerita kepada tembok.

Kepada jalan panjang di malam hari.

Kepada musik yang diputar terlalu keras di dalam mobil.

Kadang kepada teman yang kebetulan duduk di sebelah mereka tanpa banyak bertanya.

Dan seringkali, mereka tidak bercerita sama sekali.

Mereka hanya melanjutkan hidup.

Bekerja.

Pulang.

Tidur.

Lalu bangun lagi keesokan harinya.

Bukan karena mereka tidak punya cerita.

Tapi karena mereka sudah melihat bagaimana cerita itu diperlakukan ketika keluar ke dunia.

Dan dunia, seperti internet, sering lebih suka menilai daripada mendengar.

Jadi kalau suatu hari kamu bertemu seorang laki-laki yang tidak banyak bercerita, mungkin dia bukan tidak punya apa-apa untuk dikatakan.

Mungkin dia hanya pernah belajar satu hal kecil tentang manusia.

Bahwa kadang, menjaga cerita tetap di dalam kepala terasa jauh lebih aman daripada membiarkannya berjalan keluar tanpa pelindung.

Dan kalau dipikir-pikir, itu mungkin alasan kenapa banyak laki-laki akhirnya memilih satu tempat yang tidak pernah menghakimi mereka.

Kamar mandi.

Tempat di mana seseorang bisa menatap cermin cukup lama, menarik napas, dan berkata pelan kepada dirinya sendiri.

'Aman.'

Karena di ruangan kecil itu, setidaknya tidak ada kolom komentar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...