![]() |
| Hotel Berbintang Tidak Menyediakan Fasilitas Setia |
Hotel Bintang Lima Ternyata Bintang Empat untuk Perselingkuhan
Aku sudah tidur di banyak tempat.
Bukan karena aku gelandangan.
Walaupun, kalau dilihat dari jumlah koper yang pernah aku bawa, kadang rasanya memang mendekati.
Selama sekitar delapan tahun aku bekerja di luar negeri.
Pekerjaan itu membuatku tinggal berpindah-pindah di banyak tempat. Kadang tiga bulan di satu negara, kadang cuma dua minggu, kadang hanya cukup lama untuk menghafal posisi colokan listrik dan rasa air kerannya.
Kalau dihitung-hitung dengan perjalanan pribadi, jumlah negara yang pernah aku kunjungi mungkin sekitar lima puluh. Angka yang cukup tinggi untuk seseorang yang dulu bahkan sempat tersesat di dalam mall dua lantai.
Setelah pulang ke Indonesia tahun 2015, hidupku tidak tiba-tiba jadi stabil.
Justru sebaliknya.
Pekerjaan membuatku tetap sering bepergian. Kadang ke kota lain, kadang ke negara lain, kadang hanya pindah hotel karena rapat besoknya di gedung yang lebih dekat dengan bandara.
Kalau hidupku dijadikan peta, garisnya akan terlihat seperti spageti yang dilempar ke dinding.
Dan dari semua perjalanan itu, ada satu hal yang membuatku punya hubungan sangat intim dengan satu industri tertentu.
Industri penginapan.
Aku sudah tidur di hostel yang kasurnya berderit setiap kali orang bernapas.
Aku juga pernah tidur di motel yang dindingnya setipis kertas pembungkus martabak.
Aku pernah menginap di hotel melati yang shower-nya mengeluarkan dua pilihan air: panas sekali atau sedih sekali.
Dan kadang, kalau pekerjaan sedang baik hati, aku juga tidur di hotel bintang lima yang sabunnya lebih mahal daripada harga makan siangku waktu kuliah.
Semua itu pernah aku alami.
Orang biasanya mengira, kalau kita sering berpindah hotel seperti itu, pengalaman paling menonjol pasti sesuatu yang horor.
Suara langkah di koridor.
Pintu kamar yang terbuka sendiri.
Atau televisi yang tiba-tiba menyala tengah malam.
Masalahnya, hal-hal seperti itu jarang terjadi.
Yang jauh lebih sering terjadi justru sesuatu yang jauh lebih menyeramkan daripada hantu.
Perselingkuhan.
Aku tidak tahu kenapa hotel berbintang selalu menjadi tempat favorit orang yang ingin menyimpan rahasia yang sebenarnya tidak terlalu pintar untuk disimpan.
Mungkin karena hotel berbintang terasa aman.
Ada lobi besar.
Ada satpam.
Ada lift dengan kartu akses.
Semua itu membuat orang merasa, 'Di sini pasti tidak akan ada yang tahu.'
Padahal kenyataannya, justru di situlah semuanya sering ketahuan.
Aku pertama kali menyadari fenomena ini di sebuah hotel bintang empat di Bangkok.
Malam itu aku baru pulang dari makan malam yang terlalu pedas.
Perutku masih berdiskusi dengan usus mengenai keputusan hidup yang baru saja kuambil.
Begitu keluar dari lift di lantai kamar, aku melihat seorang perempuan berdiri di depan salah satu pintu kamar.
Dia tidak mengetuk.
Dia menatap pintu itu seperti sedang menatap masa depan yang buruk.
Di tangannya ada ponsel.
Di wajahnya ada ekspresi yang biasanya hanya muncul sebelum seseorang menekan tombol kirim pada pesan yang akan mengubah hidupnya.
Beberapa detik kemudian pintu kamar itu terbuka.
Dan dari dalam keluar seorang laki-laki yang jelas tidak mengharapkan ada orang di sana.
Suasana langsung berubah.
Aku berdiri sekitar lima meter dari mereka, memegang kartu kamar seperti seorang turis yang tidak sengaja masuk ke adegan drama.
Perempuan itu hanya berkata satu kalimat.
"Kamu di sini sama siapa?"
Tidak ada teriakan.
Tidak ada adegan lempar tas.
Tapi justru karena itu suasananya terasa lebih menyeramkan.
Beberapa detik kemudian dari dalam kamar muncul seorang perempuan lain.
Dan aku berdiri di sana sambil berpikir, 'Aku cuma mau tidur.'
Sejak saat itu aku mulai memperhatikan sesuatu.
Ternyata kejadian seperti ini... cukup sering terjadi.
Sangat sering.
Aku pernah melihat seorang laki-laki menunggu di lobi hotel selama hampir satu jam.
Dia duduk di sofa dengan wajah seperti orang yang sedang menunggu hasil ujian hidup.
Begitu pintu lift terbuka, dia langsung berdiri.
Keluar seorang perempuan.
Dan di belakangnya seorang laki-laki lain yang jelas bukan bagian dari cerita resmi hubungan mereka.
Aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tapi ekspresi wajah ketiganya sudah cukup menjelaskan seluruh plot.
Yang membuatku paling heran adalah satu hal.
Di film atau drama, biasanya yang menangkap pasangan selingkuh itu perempuan.
Perempuan datang ke hotel.
Perempuan membuka pintu.
Perempuan berteriak.
Di dunia nyata yang sering aku lihat justru sebaliknya.
Sering sekali laki-laki yang datang dan menemukan pasangannya di kamar hotel bersama orang lain.
Kadang orang lain itu laki-laki.
Kadang perempuan.
Kadang bahkan terlihat seperti dua orang yang sama-sama kaget melihat siapa yang membuka pintu.
Situasi yang sangat tidak romantis untuk sebuah tempat dengan karpet mahal.
Aku pernah menginap di sebuah hotel bintang lima di Singapura.
Hotel itu sangat mewah.
Lift-nya sunyi.
Koridornya harum.
Lampunya hangat.
Semua terasa seperti tempat yang sangat serius untuk urusan bisnis.
Tapi malam itu, sekitar jam sebelas, dari koridor terdengar suara pintu kamar dibanting.
Lalu suara laki-laki yang mencoba bicara dengan nada yang terlalu tenang untuk situasi yang jelas tidak tenang.
Beberapa detik kemudian suara perempuan menangis.
Dan aku duduk di dalam kamar sambil menatap minibar.
Minibar itu berisi cokelat mahal dan minuman kecil yang harganya bisa membuat seseorang mempertanyakan makna hidup.
Aku duduk di sana sambil berpikir satu hal.
'Hotel bintang lima ternyata tidak menyediakan paket kebahagiaan.'
Yang lebih sering terjadi justru paket pengungkapan rahasia.
Seiring waktu, aku mulai terbiasa dengan kejadian-kejadian seperti ini.
Bukan berarti aku tidak merasa aneh.
Tapi setelah melihatnya cukup sering, semuanya terasa seperti bagian dari perjalanan.
Orang lain mungkin melihat video seperti ini di media sosial dan berkata, "Gila, dramatis banget."
Bagiku itu hanya hari Selasa.
Aku pernah melihat seorang laki-laki yang baru saja check-in berjalan mondar-mandir di koridor sambil memegang ponsel.
Wajahnya terlihat seperti orang yang baru saja menemukan bab terakhir buku yang tidak ingin dia baca.
Beberapa menit kemudian pintu kamar di ujung koridor terbuka.
Keluar seorang perempuan.
Di belakangnya seorang laki-laki lain yang wajahnya terlihat seperti seseorang yang baru saja salah naik lift kehidupan.
Aku berdiri di dekat mesin es, berpura-pura sangat tertarik pada cara kerja es batu.
Kadang aku merasa menjadi penonton film yang tidak aku beli tiketnya.
Semua orang di situ punya cerita besar.
Sementara aku hanya seseorang yang kebetulan lewat sambil membawa handuk hotel.
Yang paling membuatku merenung sebenarnya bukan dramanya.
Tapi betapa seringnya orang merasa hotel adalah tempat yang aman untuk menyembunyikan sesuatu.
Mungkin karena hotel terasa seperti dunia sementara.
Kita check-in.
Kita tinggal sebentar.
Lalu kita pergi.
Seolah-olah apa pun yang terjadi di dalamnya tidak akan ikut keluar bersama kita.
Padahal rahasia punya kebiasaan buruk.
Dia suka ikut pulang.
Kadang dalam bentuk pesan yang tidak sengaja terbaca.
Kadang dalam bentuk orang yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar.
Kadang dalam bentuk seseorang yang menunggu di lobi dengan wajah yang sudah tahu jawabannya sebelum pertanyaan diajukan.
Setelah bertahun-tahun bepergian, aku akhirnya menyadari sesuatu.
Hotel sebenarnya bukan tempat yang penuh rahasia.
Justru sebaliknya.
Hotel adalah tempat di mana rahasia sering kelelahan.
Mungkin karena terlalu banyak pintu.
Terlalu banyak lift.
Terlalu banyak orang yang kebetulan lewat di waktu yang salah.
Aku sendiri selalu hanya menjadi penonton.
Aku tidak pernah ikut dalam cerita siapa pun.
Aku hanya orang yang berdiri di koridor, menunggu lift, sambil mendengar potongan-potongan kehidupan orang lain.
Kadang aku merasa sedikit bersalah.
Seperti seseorang yang tanpa sengaja membaca halaman buku orang lain.
Tapi pada saat yang sama, perjalanan memang seperti itu.
Kita menginap sebentar di tempat-tempat yang tidak kita kenal.
Kita melihat sedikit drama yang bukan milik kita.
Lalu kita pergi lagi ke kota berikutnya.
Meninggalkan kamar, meninggalkan koridor, dan meninggalkan orang-orang yang mungkin masih berdebat di balik pintu yang sama.
Dan setiap kali aku check-in di hotel baru, aku selalu berpikir satu hal.
Mungkin di kamar sebelah ada seseorang yang sedang tidur nyenyak.
Mungkin juga ada seseorang yang sedang memikirkan keputusan hidup yang buruk.
Atau mungkin ada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kamar, menunggu seseorang membuka pintu, sambil berharap yang keluar bukan orang yang mereka bayangkan.
Sementara aku hanya berdiri di lift, memegang kartu kamar, dan berharap satu hal sederhana.
Semoga malam ini yang terdengar dari koridor cuma suara trolley room service.
Bukan suara hubungan yang sedang check-out lebih cepat dari jadwal.

Komentar
Posting Komentar