Langsung ke konten utama

Temanku Kehilangan Uang Jajan Karena Stand JoJo yang Tidak Terlihat

 

Dukun Cinta yang Bahkan Tidak Bisa Membantu Dirinya Sendiri

Kalau kamu baru membaca tulisanku sekarang, mungkin kamu mengira aku ini lahir dan besar di kota.

Karena sekarang aku tinggal di Jakarta.
Karena aku pernah kerja di luar negeri.
Karena aku kadang bicara tentang restoran mahal atau hotel berbintang.

Padahal sebelum semua itu terjadi, hidupku dulu jauh lebih sederhana.

Aku tumbuh besar di Kalimantan Barat.

Daerah yang kalau malam terlalu sepi, suara jangkrik saja bisa terasa seperti soundtrack film horor.

Tempat di mana listrik kadang datang dengan sikap santai.

Tempat di mana orang tidak terlalu kaget kalau ada yang berkata melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.

Di sana, hal-hal mistis bukan sesuatu yang aneh.

Justru sering terasa seperti bagian dari kehidupan sehari-hari.

Orang bisa bicara tentang hantu sambil makan gorengan.

Ada yang cerita tentang penampakan sambil minum kopi.

Dan biasanya orang lain hanya mengangguk.

Seperti sedang membahas cuaca.

Karena itu, waktu aku SMA dulu, cerita tentang dukun bukan sesuatu yang aneh.

Justru agak aneh kalau sebuah kampung tidak punya dukun.

Itu seperti warung yang tidak punya mie instan.

Kurang lengkap.

Dan di masa SMA itu, aku punya seorang teman yang jatuh cinta.

Bukan cinta biasa.

Cinta yang intensitasnya sedikit terlalu tinggi untuk ukuran manusia.

Namanya tidak perlu disebut.

Mari kita panggil saja dia Budi.

Budi sebenarnya tidak jelek.

Kalau dipikir-pikir, dia cukup ganteng.

Masalahnya bukan pada wajah.

Masalahnya pada kemampuan mengambil hati perempuan.

Yang... agak kurang.

Dia sering datang kepadaku untuk meminta saran.

Ini agak ironis.

Karena di sekolah, aku dikenal sebagai orang yang sering gonta-ganti pacar.

Orang mengira itu tanda bahwa aku jago dalam urusan cinta.

Padahal sebenarnya tidak.

Gonta-ganti pacar sering kali bukan tanda kehebatan.

Kadang itu justru tanda bahwa kamu tidak terlalu pandai mempertahankan hubungan.

Tapi reputasi tetap reputasi.

Dan di mata Budi, aku adalah semacam konsultan percintaan.

Suatu hari dia datang dengan wajah serius.

"Aku suka sama dia."

Kalimat itu diucapkan dengan nada yang biasanya dipakai orang untuk mengumumkan rencana hidup.

Aku mencoba membantu.

Aku memberi saran sederhana.

Ajak ngobrol.

Jangan terlalu kaku.

Sesekali bercanda.

Hal-hal dasar yang biasanya bekerja kalau dua orang memang cocok.

Budi mencoba.

Hasilnya... tidak terlalu memuaskan.

Perempuan itu tetap tidak tertarik.

Di titik itu, kebanyakan orang biasanya menyerah.

Atau setidaknya mengurangi intensitas cintanya.

Budi tidak.

Dia memilih jalan yang lebih kreatif.

Suatu sore dia datang kepadaku dengan ide yang menurutnya sangat cerdas.

"Ayo temani aku ke pedalaman."

Kalimat itu jarang berakhir dengan sesuatu yang baik.

"Ada dukun di sana."

Aku menatapnya cukup lama.

'Ini akan jadi cerita yang buruk,' pikirku.

Tapi waktu itu kami masih remaja.

Dan remaja punya dua kelemahan besar.

Loyalitas pada teman.

Dan kemampuan membuat keputusan buruk dengan penuh semangat.

Jadi aku ikut.

Kami naik motor menuju daerah yang lebih pedalaman dari kampung kami sendiri.

Perjalanan cukup jauh.

Jalanan semakin kecil.

Rumah semakin jarang.

Pepohonan semakin banyak.

Di titik tertentu aku mulai merasa kami bukan lagi mencari cinta.

Kami sedang mencari latar lokasi film horor.

Akhirnya kami sampai di sebuah rumah sederhana.

Di situlah tinggal dukun yang katanya bisa membantu orang mendapatkan cinta.

Budi terlihat sangat serius.

Seperti seseorang yang akan mengikuti ujian nasional.

Kami masuk.

Dan di situlah aku menyadari sesuatu yang cukup menarik.

Dukun itu... duda.

Aku tidak tahu kenapa, tapi informasi itu langsung membuat otakku berhenti sebentar.

Aku melihat Budi.

Aku melihat dukun itu.

Lalu aku berpikir dalam hati.

'Kalau dia saja tidak punya pasangan... bagaimana dia membantu orang lain mendapatkan pasangan?'

Ini seperti belajar berenang dari orang yang tenggelam.

Tapi Budi sudah terlalu serius untuk mundur.

Ritual dimulai.

Dukun itu memberikan beberapa petunjuk.

Ada benda kecil yang harus dibawa.

Ada doa yang harus dibaca.

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan.

Budi mendengarkan semuanya dengan penuh harapan.

Seperti seseorang yang baru saja membeli paket premium cinta.

Aku hanya duduk di sudut ruangan.

Mencoba terlihat netral.

Tapi di dalam kepala aku masih memikirkan satu hal.

'Dia duda.'

Kami pulang dengan membawa semua "peralatan" yang diberikan dukun itu.

Budi menjalankan semua instruksinya dengan penuh dedikasi.

Hari pertama.

Tidak ada perubahan.

Hari kedua.

Masih tidak ada perubahan.

Hari ketiga.

Perempuan itu bahkan tidak tahu Budi masih hidup.

Beberapa minggu berlalu.

Hasilnya tetap sama.

Perempuan itu tidak jatuh cinta.

Tidak mendekat.

Bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa alam semesta sedang bekerja sama dengan Budi.

Di titik itu, Budi mulai kesal.

Suatu hari dia datang kepadaku lagi.

"Ayo ke sana lagi."

Aku menatapnya.

"Ngapain?"

"Minta uang kembali."

Aku hampir tertawa.

Ternyata dukun bisa punya kebijakan refund.

Kami pergi lagi ke rumah dukun itu.

Perjalanan yang sama.

Jalan yang sama.

Pepohonan yang sama.

Dan perasaan yang sedikit lebih aneh.

Budi masuk dengan ekspresi seseorang yang siap melakukan komplain pelanggan.

"Dukun, kenapa tidak berhasil?"

Pertanyaan itu diucapkan dengan nada yang sangat serius.

Dukun itu terlihat tenang.

Seperti seseorang yang sudah sering menghadapi situasi seperti ini.

Dia berpikir sebentar.

Lalu berkata sesuatu yang menurutku sangat kreatif.

"Perempuan itu penjaganya kuat."

Aku menatap Budi.

Budi menatap dukun itu.

Aku mencoba memproses kalimat itu.

Penjaganya kuat.

Dalam pikiranku muncul gambaran seperti di komik.

Seperti karakter yang punya pelindung spiritual.

Semacam Stand seperti di JoJo.

Mungkin perempuan itu berjalan ke sekolah dengan makhluk gaib yang berdiri di belakangnya sambil berkata, "Tidak boleh mendekat."

Dukun itu melanjutkan penjelasannya.

Energi perempuan itu terlalu kuat.

Ilmunya tidak bisa menembus.

Karena itu ritualnya tidak berhasil.

Penjelasan yang sangat elegan.

Karena dengan logika itu, kegagalan bukan salah dukun.

Salah target.

Budi pulang hari itu dengan dua hal.

Hati yang tetap tidak mendapatkan cinta.

Dan uang jajan yang sudah berubah menjadi biaya penelitian mistis.

Beberapa bulan kemudian, perempuan itu pacaran dengan orang lain.

Orang yang tidak menggunakan dukun.

Tidak menggunakan ritual.

Dan kemungkinan besar tidak pernah berbicara dengan entitas gaib apa pun.

Aku sering memikirkan kejadian itu sekarang.

Lucunya bukan pada ritualnya.

Bukan pada perjalanan kami ke pedalaman.

Tapi pada satu fakta sederhana.

Kami benar-benar pergi mencari bantuan cinta dari seseorang yang bahkan tidak berhasil mempertahankan cintanya sendiri.

Kalau dipikir-pikir, itu seperti pergi ke pelatih kebugaran yang perutnya lebih besar dari drum.

Tapi waktu itu kami tidak terlalu memikirkan logika.

Kami masih remaja.

Dan remaja punya keyakinan luar biasa pada dua hal.

Cinta.

Dan solusi cepat.

Sekarang setiap kali aku mengingat perjalanan itu, aku sering tersenyum sendiri.

Karena di usia seperti sekarang, aku akhirnya menyadari sesuatu yang cukup lucu tentang cinta.

Tidak ada dukun yang bisa membuat seseorang jatuh cinta.

Kalaupun ada, kemungkinan besar dia sudah menikah berkali-kali.

Dan tidak tinggal sendirian di rumah kecil di tengah hutan.

Budi akhirnya move on.

Dia menemukan pacar beberapa tahun kemudian.

Tanpa ritual.

Tanpa dukun.

Tanpa perjalanan mistis.

Sementara aku, setiap kali mendengar orang berbicara tentang ilmu pelet, aku selalu ingat satu hal kecil.

Bahwa mungkin kekuatan paling besar dalam cerita itu bukan ilmu gaib.

Tapi kemampuan seorang dukun untuk menjelaskan kegagalan tanpa harus mengembalikan uang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...