Langsung ke konten utama

Manusia Swalayan dan Sistem Operasi Bernama Kesendirian

 

Hubungan Paling Stabil dalam Hidupku Ternyata dengan Diriku Sendiri

Dulu aku bangga sekali bisa apa-apa sendiri. Waktu pertama kali pindah ke Jakarta, kemampuan itu terasa seperti medali kecil yang kugantung di dada. Aku bisa jalan sendiri tanpa panik. Aku bisa makan sendiri tanpa merasa seperti karakter figuran yang menunggu dialognya tidak kunjung datang. Bahkan tidur sendiri terasa menyenangkan, karena tidak ada yang tarik-tarikan selimut seperti dua negara yang sedang berebut wilayah sengketa.

Ada semacam kebanggaan aneh dalam kemandirian itu. Rasanya seperti berhasil naik level dalam permainan hidup. Orang lain masih sibuk mencari teman makan siang, sementara aku sudah santai duduk di pojok restoran, memesan makanan tanpa perlu diskusi panjang tentang mau makan apa. Tidak ada drama "terserah", yang biasanya berarti tidak terserah sama sekali.

Semua terasa efisien. Hidupku seperti minimarket kecil yang buka dua puluh empat jam, dan kebetulan aku juga kasirnya.

Awalnya aku pikir kesendirian ini cuma fase sementara. Seperti promo diskon di aplikasi belanja yang ada tulisan kecil di bawahnya: berlaku sampai tanggal tertentu. Aku mengira suatu hari akan ada notifikasi besar dari kehidupan yang berbunyi, "Selamat, Anda tidak lagi sendirian."

Aku menunggu itu.

Tidak datang.

Sebaliknya, yang datang justru hal lain. Aku semakin terlatih melakukan semuanya sendiri. Memesan makanan sendiri. Pergi ke dokter sendiri. Sakit sendiri. Sembuh sendiri. Bahkan menenangkan diri sendiri dengan kalimat-kalimat yang aku buat sendiri.

Kadang aku duduk di kamar, menatap langit-langit yang entah kenapa selalu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu juga. Lalu aku bilang pelan, "Sabar ya."

Beberapa detik kemudian aku menjawab, "Iya, tahu."

Percakapannya berjalan lancar. Tidak ada yang meninggikan suara. Tidak ada yang memotong pembicaraan. Tidak ada drama pintu dibanting.

Hubungan kami sangat dewasa.

Kalau dipikir-pikir, ini mungkin hubungan paling stabil yang pernah aku punya.

Masalahnya, stabilitas seperti ini juga sedikit mengkhawatirkan.

Karena suatu hari aku sadar, kesendirian itu sudah berubah bentuk. Dulu dia terasa seperti keadaan. Sekarang dia terasa seperti sistem operasi. Dia berjalan di latar belakang hidupku tanpa perlu diperintah. Semua proses berjalan otomatis.

Butuh dukungan emosional? Aku bisa memproduksinya sendiri.

Butuh validasi? Aku juga bisa menyediakannya.

Butuh pelukan? Ya, paling tidak bantal masih ada. Dan bantal tidak pernah mengeluh kalau dipeluk terlalu lama.

Kadang aku mulai curiga ini bukan sekadar kebiasaan. Jangan-jangan ini evolusi. Manusia dulunya makhluk sosial, tapi mungkin beberapa dari kami sedang berevolusi menjadi manusia swalayan.

Segala kebutuhan emosional tersedia dalam satu paket.

Bayangkan sebuah toko kecil. Di sana ada rak dukungan moral, rak pengertian, rak kesabaran. Aku masuk ke toko itu setiap hari dan mengambil semua yang aku butuhkan dari rak-rak tersebut.

Yang menjaga tokonya juga aku.

Kadang diskon.

Kadang tidak.

Tapi tokonya selalu buka.

Aku pernah membayangkan, kalau suatu hari ada seseorang yang benar-benar ingin masuk ke hidupku, mungkin dia harus antre. Bukan karena aku merasa hidupku penuh dengan orang-orang penting. Justru sebaliknya.

Hampir semua peran di hidupku sudah diisi oleh... aku juga.

Aku adalah teman curhatku sendiri.

Aku adalah orang yang menenangkan diriku ketika panik.

Aku juga orang yang menegur diriku kalau mulai bertingkah aneh.

Seperti sebuah perusahaan kecil yang hanya punya satu karyawan yang merangkap semua jabatan. Direktur, staf, HRD, satpam, bahkan bagian kebersihan.

Kalau aku melakukan kesalahan, aku juga yang memarahi diri sendiri.

Dan jujur saja, aku cukup galak sebagai atasan.

Kadang aku berkata dalam hati, 'Harusnya kamu bisa lebih baik dari ini.'

Lalu beberapa menit kemudian aku juga berkata, 'Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu sudah berusaha.'

Aku tidak tahu apakah ini sehat atau tidak. Yang jelas efisien.

Masalahnya muncul ketika aku melihat orang lain hidup dengan sistem yang berbeda. Mereka punya orang yang bisa diajak bicara tanpa perlu menjawab sendiri. Mereka punya seseorang yang bisa bilang "tidak apa-apa" tanpa suara itu keluar dari kepala mereka sendiri.

Aku tidak iri, sebenarnya. Lebih tepatnya, aku bingung.

Karena aku sudah terlalu terbiasa dengan sistem lama.

Seperti orang yang sudah lama tinggal sendirian lalu tiba-tiba harus berbagi kamar. Bukan tidak bisa. Hanya saja butuh waktu untuk membiasakan diri dengan fakta bahwa ada orang lain yang juga bernapas di ruangan yang sama.

Pernah suatu malam aku pulang kerja dalam keadaan sangat lelah. Hari itu panjang sekali. Macet di jalan, rapat yang tidak selesai-selesai, dan kopi kantor yang rasanya seperti air panas yang tersinggung.

Aku duduk di tempat tidur dan berkata pelan, "Hari ini berat."

Beberapa detik kemudian aku menjawab, "Iya, aku tahu."

Aku tertawa kecil.

Karena di momen itu aku sadar, aku benar-benar sedang berbicara dengan diriku sendiri. Dan yang lebih aneh lagi, percakapannya terasa masuk akal.

Tidak ada yang merasa aneh.

Tidak ada yang mempertanyakan kewarasannya.

Kami hanya duduk di kamar yang sama, berbagi pikiran yang sama, dan mencoba melewati hari yang sama.

Hubungan seperti ini punya satu kelebihan besar: hampir tidak pernah ada konflik besar. Kami jarang bertengkar. Kalau pun ada perbedaan pendapat, biasanya cepat selesai.

Misalnya, satu sisi diriku berkata, 'Kamu harus lebih berani membuka diri.'

Sisi lain menjawab, 'Iya, nanti.'

Percakapan selesai.

Tidak ada yang ngambek. Tidak ada yang menghilang tanpa kabar.

Kadang aku berpikir, mungkin ini memang cara hidup yang cukup masuk akal. Dunia luar itu sering berisik. Orang-orang membawa cerita mereka sendiri, luka mereka sendiri, dan kadang kita harus belajar menavigasi semua itu dengan hati-hati.

Sementara di dalam kepala sendiri, semuanya sudah dikenal. Aku tahu bagaimana diriku bereaksi ketika sedih. Aku tahu kapan diriku mulai terlalu keras pada diri sendiri. Aku juga tahu kapan harus berhenti berpikir terlalu jauh.

Ini seperti tinggal dengan teman sekamar yang sudah sangat lama kamu kenal.

Kami sudah melewati banyak hal bersama.

Kami juga tahu batas masing-masing.

Namun semakin lama aku menjalani sistem ini, semakin sering muncul satu pertanyaan kecil yang tidak terlalu nyaman.

Apakah aku kuat karena bisa sendiri?

Atau aku sendiri karena sudah terlalu sering tidak punya pilihan lain?

Pertanyaan itu biasanya datang di waktu-waktu yang aneh. Misalnya ketika melihat pasangan tua berjalan pelan di trotoar. Atau ketika mendengar dua orang tertawa di meja sebelah di restoran.

Bukan rasa iri yang muncul.

Lebih seperti rasa penasaran.

Seperti melihat kehidupan alternatif yang mungkin saja pernah bisa terjadi, tapi entah bagaimana tidak pernah sampai ke sini.

Lalu aku kembali ke rutinitas biasa. Aku memesan makanan sendiri. Aku makan sambil menonton sesuatu di laptop. Kadang aku berhenti sejenak dan berkata dalam hati, 'Tidak apa-apa.'

Dan dari dalam kepalaku, ada suara yang menjawab, 'Iya, tidak apa-apa.'

Percakapan itu sederhana, tapi cukup menenangkan.

Mungkin suatu hari sistem ini akan berubah. Mungkin suatu hari ada seseorang yang masuk ke hidupku dan berkata bahwa beberapa rak di toko kecil itu tidak perlu aku isi sendirian lagi.

Atau mungkin tidak.

Untuk saat ini, aku dan diriku masih cukup akur. Kami sudah lama bekerja sama. Kami tahu bagaimana melewati hari-hari yang terasa berat tanpa membuat semuanya terasa seperti tragedi besar.

Kadang kami berbeda pendapat sedikit. Biasanya soal hal-hal kecil, seperti apakah harus keluar rumah atau tetap di kamar menonton sesuatu sampai lupa waktu.

Tapi setelah itu kami selalu baikan lagi.

Namanya juga hubungan lama.

Sudah saling mengerti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...