Langsung ke konten utama

Dracula: Dead and Loving It (1995)

 


Tidak semua vampir menakutkan. Ada yang cuma ngantuk, salah kostum, dan terlalu banyak ngomong.


Aku pernah punya tetangga yang rambutnya disisir licin ke belakang, suka pakai jubah hitam malam-malam, dan punya pandangan mata yang… tajam. Bukan tajam yang memesona, tapi tajam yang bikin aku mikir: “Ini orang kalau minum kopi kayaknya langsung diseruput dari bijinya.”

Tapi ternyata dia cuma petugas keamanan komplek yang ikut ekskul teater waktu SMA.

Lalu aku nonton Dracula: Dead and Loving It — dan entah kenapa, aku merasa tetanggaku itu jauh lebih serem.

Karena Dracula di film ini… ya gimana ya. Lebih mirip duda nyasar yang belum move on dari mantan istrinya yang ketabrak kereta.

Dan aku suka itu.

Bayangkan sosok Dracula. Keren, misterius, malam-malam naik kereta kuda, lalu muncul di depan kastil sambil berkata, “Aku ingin menghisap darahmu.”

Nah… yang ini tidak.

Dracula di sini lebih cocok bilang, “Aku ingin menghisap… madu hangat untuk batukku.”

Begitulah Dracula versi tahun 1995 ini. Bukan tipe vampir yang bikin kamu takut buka jendela malam-malam, tapi lebih seperti kakek lucu yang nyasar ke film horor dan malah bikin semua orang bingung siapa sebenarnya tokoh utamanya.

Tapi di balik itu semua, ada sesuatu yang tak bisa dihindari: kekonyolan yang direncanakan dengan serius.

Film ini bukan horor yang bikin kamu pegangan bantal. Ini horor yang bikin kamu pengin lempar bantal ke layar sambil bilang, “Pak, ini Dracula-nya lupa dikasih naskah serem!”

Kastil tempat Dracula tinggal biasanya sunyi, dingin, dan penuh misteri. Tapi dalam film ini, kastilnya lebih mirip rumah kost lama yang belum direnovasi sejak zaman Belanda. Ada sarang laba-laba, tangga kayu berderit, dan pelayan bernama Renfield yang… entah kenapa, terlihat seperti korban magang tak dibayar yang terlalu lama di sana.

Renfield di film ini bukan pembantu setia, melainkan figuran utama dalam kegilaan latar belakang. Matanya melotot seperti orang yang habis minum jamu kuat dobel dosis, dan ekspresinya sepanjang film seperti sedang mencoba menahan bersin yang tidak kunjung keluar.

Yang membuatku kagum: dia konsisten.

Ada satu adegan di mana Dracula berubah jadi kelelawar, lalu menabrak jendela.

Kalau ini film serius, kita mungkin akan melihat Dracula terbang anggun, melayang di atas kota, sambil menyusup ke kamar korbannya. Tapi tidak di sini. Di sini, dia nabrak jendela kayak cicak grogi yang baru pertama kali belajar terbang.

Dan saat dia akhirnya berubah lagi jadi manusia… dia cuma berdiri, ngelus dahinya, dan bilang semacam, “Duh.”

Itu saja. Tidak ada kutukan, tidak ada mantra. Hanya… “Duh.”

Itulah kenapa aku betah nonton film ini. Karena bahkan Dracula pun tidak lolos dari malu-maluin versi manusiawi.

Biasanya, kisah Dracula diselipi romansa gelap yang penuh hasrat, tragedi, dan dendam masa lalu.

Tapi tidak di sini.

Dracula jatuh cinta seperti remaja baru lulus SMA yang salah masuk grup alumni. Dia melirik, tersenyum, lalu tiba-tiba sudah duduk berdampingan di taman sambil ngobrol tentang cuaca.

Satu-satunya hal yang romantis dari Dracula di film ini adalah cara dia bingung sendiri saat kena cinta lokasi.

Dan yang membuat semua makin menggelikan adalah fakta bahwa… semua tokohnya juga sama-sama tidak yakin mereka lagi main film genre apa.

Tentu saja, karena ini film Dracula, ada darah. Tapi bukan darah yang bikin mual. Ini darah yang keluar kayak sirup jatuh dari meja, lalu tokohnya bingung harus ngelap pakai tisu atau kain pel.

Salah satu adegan paling kocak adalah saat dokter Van Helsing (yang biasanya jadi pembasmi vampir paling galak) malah terlihat seperti dosen bingung yang lupa bawa pointer.

Kamu pernah lihat orang sok tahu, tapi makin dijelasin makin salah? Nah, itu Van Helsing versi ini.

Bahkan ketika dia sudah tahu Dracula itu vampir, ekspresinya masih kayak orang yang ragu-ragu mau bilang, “Pak, ini gigi Bapak nempel darah ya…”

Judul film ini bisa berarti banyak. “Dead and Loving It” — mati tapi tetap bahagia. Atau mungkin… “sudah basi, tapi masih laku.”

Dan itu yang aku rasakan.

Film ini memang bukan karya besar. Tapi seperti tempe seminggu di kulkas yang digoreng lagi: masih enak, meskipun sudah lewat masa tayang.

Dracula di sini bukan untuk ditakuti. Tapi untuk ditertawakan. Dan justru karena itu, dia lebih hidup dari yang kamu kira.

Karena kadang, yang kita butuhkan bukan cerita sempurna. Tapi cerita bodoh yang tahu dirinya bodoh — dan tidak minta maaf soal itu.

Kalau kamu sedang lelah dengan film serius, sedang suntuk dengan hidup, dan sedang ingin menertawakan sesuatu tanpa harus pakai otak — maka film ini bisa jadi pilihan.

Film ini mengingatkanku pada orang yang datang ke pesta kostum pakai daster, lalu tetap menang lomba karena semua orang sepakat: dia paling niat, walaupun tidak tahu tema acaranya.

Dan dalam hidup ini, kadang yang paling membekas bukan yang paling menyeramkan… tapi yang paling berantakan tapi jujur.

Begitu juga Dracula di film ini: tidak menyeramkan, tidak anggun, bahkan kadang menyebalkan — tapi entah kenapa… bikin kangen.

Sama seperti mantan yang dulu suka bikin kita kesal… tapi ternyata dia juga yang ngajarin kita cara tertawa tanpa alasan.

Dracula ini bukan untuk ditakuti.

Tapi untuk dikenang… sambil nyengir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakso Memang Enak, tapi Mi Ayam Lebih Sempurna

  “Perdebatan kuliner itu seperti percintaan—tak selalu soal siapa yang benar, tapi siapa yang lebih bisa diterima oleh perut dan hati.” Dari semua perdebatan yang muncul di tengah obrolan makan siang atau nongkrong sore, yang paling sering aku dengar adalah ini: “Bakso enakan, lah. Mi ayam itu cuma pelengkap!” Lalu, ada juga yang pasang badan dan membela mati-matian: “Mi ayam dong! Bakso itu kalo dimakan sendirian jadi ngebosenin.” Perdebatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan ada yang bilang, pertarungan antara bakso dan mi ayam ini lebih rumit daripada debat pasangan calon waktu pemilihan kepala daerah. Karena kalau urusan politik, masih bisa berubah pikiran. Tapi soal bakso dan mi ayam? Ini menyangkut selera, nostalgia, dan kadang... dendam pribadi terhadap masa lalu. Aku sendiri pernah ada di tengah-tengahnya. Pernah menyukai keduanya dengan kadar yang sama. Tapi lama-lama, aku sadar—kalau harus memilih, aku akan pilih mi ayam. Bukan karena bakso tidak enak. Tapi kar...

Tentang Nara Senandika

  Halo, selamat datang di Warung Nara! Tempat di mana kata-kata digoreng, dibumbui, kadang asin, kadang pedas, tapi (semoga) selalu bikin ketagihan. Saya Nara Senandika, penulis juga youtuber yang sudah terlalu sering dipuji hanya saat dibutuhkan, dan dilupakan begitu kebutuhan itu hilang. Kalau nama saya terasa familiar, mungkin Anda pernah membaca buku Babi Bujang —sebuah catatan hidup lajang yang jujur, kocak, sekaligus sedikit getir. Atau mungkin Anda menemukan sisi saya yang lebih ‘pasrah tapi ikhlas’ di Medium Ugly —kumpulan esai tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dan bagi yang suka mencari kepalsuan dalam pujian, silakan singgah di Puja Puji Palsu , buku puisi yang ditulis dengan senyum miring dan alis terangkat. Di sini, saya menulis apa saja yang terlintas di kepala—dari yang penting sampai yang receh, dari yang bikin merenung sampai yang bikin ngakak sendirian di pojokan. Kalau Anda suka membaca hal-hal semacam itu, jangan ragu untuk mampir sering-sering. Ka...

Kemanggi: Daun Sok Penting dalam Hidangan Rakyat Jelata

Mari kita mulai dengan pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial: Kemanggi itu nggak penting. Iya, kamu nggak salah baca. Dalam dunia kuliner rakyat macam pecel lele, pecel ayam, pecel bebek, bahkan sampai ke gurame bakar yang dipencet-pencet di atas cobek… kemanggi itu hanyalah peran figuran yang terlalu percaya diri. Daun kecil, ramping, aromanya nyentrik, dan entah kenapa selalu ikut duduk di piring seolah dia bagian dari menu utama. Dan setiap kali aku pesan pecel lele, pasti ada dua hal yang aku lakukan secara otomatis: Mengamati apakah lelenya cukup gosong atau cuma dikasih warna lewat efek sambal. Mendorong kemanggi ke ujung piring, jauh-jauh dari nasi dan lauk. Maaf ya, kemanggi. Kita bukan musuhan. Kita cuma beda prinsip hidup. 1. Kemanggi Mengganggu Aroma Kesakralan Sambal Bayangkan kamu lagi makan pecel lele. Nasi hangat mengepul, sambal pedas menggoda, lele garing di luar lembut di dalam. Semua harmoni ini tercipta dengan sempurna… …hingga tiba-tiba aroma kemanggi men...